Kebangkrutan pengembang di Indonesia: mengapa pembeli bukan prioritas

Kebangkrutan pengembang adalah salah satu risiko yang paling diremehkan bagi pembeli properti di Indonesia. Banyak yang beranggapan bahwa jika suatu proyek tidak terpenuhi, mereka dapat memulai proses kebangkrutan terhadap pengembang dan mendapatkan kembali uang mereka. Dalam praktiknya, situasinya jauh lebih kompleks.
PPJB dan status pembeli: mengapa Anda bukan prioritas
Masalah dimulai dengan struktur transaksi. Selama pembeli hanya memegang PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli), mereka tidak dianggap sebagai pemilik sah dari properti tersebut. Sebaliknya, mereka memiliki klaim kontraktual—hak untuk menerima properti tersebut di masa depan. Dalam hal kebangkrutan, ini secara otomatis menempatkan pembeli dalam kategori kreditur ketimbang pemilik.
Setelah proses kebangkrutan dimulai, hukum kepailitan Indonesia (UU Kepailitan) menentukan urutan pembayaran. Kreditor yang dijamin—biasanya bank—dibayar lebih dulu. Mereka diikuti oleh kreditor preferensial, seperti karyawan, kewajiban perusahaan tertentu, dan otoritas pemerintah. Setelah itu, kreditor tanpa jaminan baru dipertimbangkan, di mana sebagian besar pembeli tanpa kepemilikan terdaftar masuk.
Dalam praktiknya, ini berarti bahwa setiap potensi pengembalian dana dibagikan berdasarkan sisa aset—hanya jika ada aset tersisa setelah klaim berprioritas lebih tinggi terpuaskan.
Praktik pengadilan dan prosedur kebangkrutan: keterbatasan dan risiko
Praktik pengadilan dalam kasus-kasus ini tidak memberikan perlindungan yang konsisten. Dalam beberapa kasus, pengadilan merujuk pada kebutuhan untuk melindungi "pembeli yang beritikad baik," namun ini tidak menetapkan prioritas hukum yang stabil. Setiap kasus dinilai secara individual, tergantung pada struktur utang pengembang, keberadaan jaminan, dan tahap penyelesaian proyek. Sebagai hasilnya, kasus serupa dapat menghasilkan hasil yang sangat berbeda.
Penting juga untuk mempertimbangkan keterbatasan prosedural. Memulai proses kebangkrutan tidak sesederhana yang mungkin dibayangkan. Menurut panduan dari Mahkamah Agung Indonesia (SEMA No. 3 Tahun 2023), klaim terkait proyek pengembangan tidak selalu dianggap "sederhana untuk dibuktikan." Ini menjadikan kebangkrutan alat yang tidak dapat diandalkan untuk menerapkan tekanan cepat terhadap pengembang.
Bahkan jika proses kebangkrutan berhasil dimulai, ini tidak menjamin pemulihan dana. Pengembang mungkin memiliki aset yang sangat dibebani, kewajiban yang signifikan, dan proyek yang belum selesai. Dalam situasi seperti itu, dana yang tersedia seringkali tidak cukup untuk menutup seluruh kreditur, meninggalkan pembeli dalam antrean tanpa jaminan mendapatkan kompensasi.
Secara esensial, risiko utama bukan hanya apakah proyek akan selesai, tetapi apa yang terjadi jika pengembang gagal memenuhi kewajibannya. Bahkan keputusan pengadilan yang menguntungkan tidak selalu menghasilkan pemulihan dana secara nyata.
Tanda-tanda Peningkatan Risiko Proyek
Ada beberapa tanda peringatan yang dapat menunjukkan peningkatan risiko hukum dan keuangan dalam sebuah proyek:
Jika pengembang tidak dapat dengan jelas menjelaskan dasar hukum kepemilikan tanah (seperti Hak Milik, HGB, atau Hak Pakai) atau hak apa yang akhirnya akan ditransfer ke pembeli, ini adalah tanda bahaya.
Kurangnya transparansi mengenai pemegang saham, pemilik manfaat, dan struktur perusahaan juga harus menimbulkan kekhawatiran.
Risiko tambahan muncul jika pengembang menolak menyediakan perjanjian tanah, bukti pembayaran, atau dokumen kepemilikan.
Proyek yang terletak di area terbatas atau tidak sesuai zona—seperti kawasan pesisir, pertanian, atau daerah terlindung—juga membawa risiko lebih tinggi.
Struktur transaksi yang kompleks, di mana perjanjian ditandatangani bukan dengan pemilik tanah tetapi dengan pihak ketiga atau perusahaan afiliasi, harus dianggap dengan hati-hati.
Hal yang sama berlaku jika tidak ada informasi yang jelas tentang pembiayaan proyek atau jika pengembangan sepenuhnya bergantung pada dana pembeli.
Cara mengurangi risiko saat membeli properti di Indonesia
Setiap faktor ini sendirian mungkin tidak selalu menunjukkan masalah. Namun, jika digabungkan, mereka dapat menandakan risiko hukum dan keuangan yang signifikan. Dalam kasus seperti itu, kehati-hatian tambahan sangat dianjurkan daripada hanya mengandalkan materi pemasaran atau jaminan pengembang.
Bahkan pengembang dengan rekam jejak yang sukses tidak menjamin keandalan dalam proyek masa depan. Itulah mengapa penting untuk menilai gambaran menyeluruh sebelum melakukan pembelian.
Ini termasuk meninjau struktur perusahaan, memverifikasi informasi investor, memastikan bahwa modal telah disumbangkan dengan benar, dan memastikan bahwa penunjukan tanah cocok dengan penggunaan proyek yang dimaksudkan. Juga penting untuk memastikan bahwa semua izin konstruksi yang diperlukan telah ada. Ini bukan formalitas—ini adalah elemen kunci dari transaksi yang aman.
Pakar, Departemen Hukum
Legal Indonesia
I Gusti Ayu Bitari Karma Gita













